Long time no see. Wuah, dah lama juga ga nge-blog. Cerita apa ya? Standar aja sih sebenernya. Great Ramadhan, and Idul Fitri dengan liburannya yang cukup membahagiakan. Ya meskipun di tengah-tengah liburan ada telepon dari kantor yang nanyain soal giro-giro toko yang ternyata sudah cair sebelum waktunya. Ga bisa liat orang seneng dasar. Setelah menjalani bulan Ramadhan dengan penuh sukacita dan kecantikan luar dalam, akhirnya lebaran tiba juga. Libur telah tiba, libur telah tiba, hore..hore…hore…! Jeng jeng jeng.. ! Abis shalat Ied kami pergi ke Sukabumi kampung halaman Bapakku yg terganteng se-Indonesia itu.
Eh, bacanya jangan dulu udahan, ini ceritanya menarik loh. Bukan sekedar cerita mengenai berlibur ke rumah nenek yang sering kita bikin zaman SD dulu. Yah, ada sih mirip2 dikit. Tapi ini mah mengandung unsur edukasi, beda lah sama karangan kita zaman SD dulu, percaya deh. Secara sekarang saya dah 3 tahunan ini jadi sarjana sastra yang lucu dan menggemaskan, okay… (Nyombong dikit bole dong, maklum lulusnya lama… angkatan 98’ and don’t ask where did I get the S.S thing).
Mulai bete ya? Kalo penulis expert kan emang cara bertuturnya suka ngebetein gini. Jadi pembaca yang baik harus bersabar. Iya deh, mulai ya ceritanya. Setelah sampai di rumah bapak di Sukabumi, hari mulai senja dan matahari mulai terbit di bagian bumi lain. Rumah bapak adalah rumah di tengah kebun named Sampora. Kebun bapak ini adalah tanah datar yang ditumbuhi bermacam-macam taneman, secara bapak itu pensiunan pegawai negeri di Departemen Kehutanan. Jangan dulu membayangkan bentuk rumah bapak ya, soalnya saya belum selesai describingnya. Kebun ini terletak di pinggir jalan raya soalnya kalo terletak di tengah jalan raya tampak ribet membayangkannya. Kebun ini ditumbuhi pohon-pohon kelapa, pohon jati, pohon cengkih, pohon papaya, mangga, pisang, jambu yang buahnya sering dibeli di pasar minggu, juga pohon mangga, sawo, rambutan, salak, cabe, jengkol, pete, dan banyak deh. Jadi kalau tinggal di sini pasti berat badan nambah 2-3 Kg secara kita selalu disupply berbagai makanan dan selalu ngerujak. Rumah ini rumah beton (sebenernya saya gak ngerti ini lagi ngomong apa) beratap genting, dikelilingi teras selebar 2 meter, dengan 1 ruang tamu yang bersatu dengan ruang keluarga, 2 buah kamar tidur, 1 dapur yang bersatu dengan ruang makan, dan 2 kamar mandi. Rumah bapak lucu sekali, kecil tapi seperti labyrinth, serasa liburan di Mesir. Kata Dea adikku yang paling cantik se-Indonesia (ypcsI) itu, ini rumah type 4L, lu lagi lu lagi. Jadi saking mungilnya kita berasa ketemu terus gitu. Kita makan malam bersama (kita: Ibu, Bapak, saya, Dea adikku ypcsI, K Yudi kk ku yg nomer 2 terganteng setelah bapak, istrinya k Yudi, Reyhan anaknya k Yudi yg masih TK tapi udah punya pacar, n sejumlah nenek2 dan kakek2 kakak2nya bapak yang mengunjungi kami malam itu). Reyhan mulai merasakan gangguan yang diakibatkan oleh rumah type 4L ini, dengan protes extreme.
“Nenek2nya banyak baget sih, Tante. Udah gitu jelek2 lagi”, gitu katanya, ungkapan jujur seorang anak TK begog.
“Eh Reyhan gak boleh bilang gitu, nenek2nya kan baik, koq dibilang jelek?” sebagai Tante saya kan musti mengajarkan kesopanan.
“He he he.. abis rambutnya putih semua”.
“Kan neneknya mo shalat, sayang…, jadi kerudungnya dibuka dulu, tar abis shalat dipake lagi”, Reyhan emang gak suka liat perempuan gak pake kerudung, kae sirip ikan pari katanya, secara emaknya sering dia puji2 kalo dah cantik pake kerudung karena itu tandanya dia mau diajak jalan2.
Setelah nenek2 dan suami2nya pulang, Reyhan tidur bersama Mamanya. Lalu saya, Dea, dan Kak Yudi nonton sinetron yang judulnya lupa. Ceritanya ngikutin film What a Girl Wants, tapi diadaptasi jadi versi Indonesia dan saya heran kenapa juga nonton sinetron itu. Lucu, acting nangisnya banyak banget, dan kita gak bisa ngebedain dia lagi nangis atau lagi ketawa. Jadi mimic mukanya tuh seems like ga sengaja nelen sikat gigi. Nangis yang gak bersuara tapi nyengir2 kae lagi ketawa gak bersuara. Entah berapa kali dia nelen sikat gigi di sinetron itu.
Keesokan paginya, kita berziarah ke makam Nini dan Aki yang terletak di area makam di tengah tanah almarhum Aki. Kita harus melewati pematang sawah kering yang kalo lagi musim tanam pasti keern banget pemandangannya. Kemarau panjang jadi gak asik, sawahnya kering dan banyak tumbuhan meranggas (secara saya gak tau nama tumbuhan itu apa. Sebenernya saya gak ngerti meranggas itu apa, tapi istilah ini sepertinya cocok untuk kalimat ini) yang menyerap air sawah. Setelah membersihkan makam dan ikut2an baca doa-doa pendek, saya dan dea sempet foto2 secara narsis mode on. Ada kebiasaan yang agak rancu kalo musim ziarah makam kae gini. Anak muda di kampung sini kebanyakan kerja di kota. Entah apa maksudnya kalo musim ziarah gini mereka (si orang-orang kampung yang bekerja di kota itu) bayar orang lain untuk bersihin makam orang tuanya dan ngaji sampe khatam berapa kali selama kurun waktu tertentu di samping makam orang tuanya. Tarif ngajinya itu sampe jutaan rupiah, secara horror juga kali musti ngaji 3 hari 3 malem di kuburan pula… capedeee… Rancu kan? Tapi ya sudahlah, saya gak mau membahas hal bodoh yang gak educating ini. Tapi kebiasaan rancu itu baru ada recently, diduga sih setelah munculnya acara Uji Nyali di TV. Bapak bilang sih itu terjadi karena degradasi iman dan taqwa. Dan karena mereka belegug aja, masa sih bersiin makam orang tua sendiri ribet, dan soal mengaji dan berdoa kan gak perlu di makam gitu sampe nginep2 segala.
Pulang dari makam, Bapak sengaja membawa kami jalan memutar sambil nunjukkin ini tanah siapa dan itu tanah siapa. Kami juga sempet mampir ke rumah salah satu kerabat bapak, secara sekampung emang sodaraan semua. Suasana di kampung itu damai banget, pantesan orang kampung anaknya banyak. Honeymoon is everyday. Dan orang kampung itu tajir-tajir, anaknya yang ngantri itu dikasih rumah satu-satu, bukan rumah tipe RSS yang bayarnya kredit juga. Halamannya luas pula bisa buat maen bola. Tipikal orang Indonesia banget lah, kaya raya, punya tanah, air , istri and banyak anak. Oh iya, kita juga sempet dikejar2 kambing gara2 Reyhan dengan sok akrabnya menyapa seekor emak kambing yang lagi gundah.
“Halo embeee… kamu lagi apa?”
“Mbeeeek”
“Laper ya? Kamu makan apa mbeek?’
“Mbeeeek”
“Ooo.. makan rumput ya?”
“Mbeeeek”
Tiba-tiba si emak kambing lari ke arah kami sambil histeris embek2an mengejar Dea yang pake payung berwarna eye catching. Mungkin dikiranya Dea tuh anaknya yang bereinkarnasi menjadi ABG berpayung pinky. Dea shock berat dan berlari ke arah bapak minta digendong secara badannya panjang banget seperti bihun. Jadi tampak gak ergonomic gitu melihat gayanya memeluk bapak sambil teriak2 bangga dikejar2 kambing. Bapak yang lagi gandengan sama Ibu jadi agak terganggu juga sih dengan aksi peluk bihun ini.
“De, tutup payungnya! Tuh kambing suka sama payung pink!” K Yudi memberi aba-aba, sepertinya panik.
“Bukan, K Yudi tuh topinya merah!”, tengsin juga si Dea dikejar2 kambing.
“Tapi yang dikejar kan kamu…” k Yudi ikut tengsin kalo dugaan Dea benar.
“Emang kambing suka warna pink? Ini gimana nutupnya?” Dea panic tiba-tiba si payung susah dilipet, setengah putus asa payung pun dilempar ke arah jemuran rumah Uwak (uwak: dalam bahasa sunda sebutan untuk kakaknya bapak).
Setelah dikasih minum air teh tawar hangat plus opak garing (opak: makanan seperti kerupuk yang dibuat dari beras gitu…) kami menuju tempat parkir. Dea berangsur2 pulih dan mulai mendekati bebek community untuk foto2 bersama bebek.
“De! Jangan deketin entog2 itu. Tar kamu dikejar emaknya entog!” K Yudi ngasi saran.
“Bapaaaaak…tolong Deaaa…”
Jam 11-an kita berangkat ke pantai Ujung Genteng to have lunch. Pantai ini keren banget. Jalan menuju ke sana udah mulus, gak macet pula secara orang-orang mulai kurang suka ke pantai semenjak peristiwa di Aceh dan Pangandaran kemarin. Menurut bapak, dulunya pantai ini dermaga gitu, tapi berhubung terjadi pendangkalan pantai jadinya dermaganya ditutup.
Pantai Ujung Genteng ini is a southern coastal area which in general has white and thick sand with a lot of sea weed grow. The most attracting thing of this object is the effort of conserving turtles (green turtles; Chelonia mydas) and to watch them lay eggs. Saya koq berasa jadi tourists guide gini, gpp ya in English dikit, kan buat promosiin this cool beach to the world. Maklumlah, orang bule kan gak secerdas orang Indonesia, mereka tuh biasanya oon and gak mau belajar bahasa Indonesia. Biarlah mereka dengan keoonannya dan kita dengan kekerenan kita. Unfortunately, it was not the season of those turtles to lay eggs. Lagian to watch it perlu kesabaran extra ordinary dan perlu persiapan yang well cooked atau matang. Secara si penyu2 hijau ini bertelurnya setelah matahari terbenam sampai sebelum ayam jantan berkokok, penyu2 ini juga dengan gaya penyunya yang pelan2 seperti puteri keraton itu gak suka cahaya dan suara2 berisik, jadi begitu terkena cahaya dia bisa bad mood dan balik lagi ke laut gak jadi bertelur. Bukannya belagu, tapi kalo kena sinar bulan pun dia akan berubah menjadi Srigala. Hehehe.. enggak ding.. dan asal tau aja nyamuk2nya raksasa jadi ya sudahlah tak perlu menonton si Chelo bertelur. Oh ya, kata Bapak kalo dia bertelur, biasanya the female turtles ini going along the beach about 20 meters from the beach line then the turtles begins to dig holes about 0.5 meters depth. When they dig it they use both of their front legs. Whenever all their bodies are already hidden in the holes, they dig holes for laying their eggs with their back legs. Right in those holes the round and soft covered eggs are kept.
Penyu2 ini gak bertelur tiap hari, tapi ada musimnya. Penyu bertelur 6 sampai 7 kali dalam setahun atau sekali dalam 40-60 hari. Setelah 45-60 hari telurnya menetas dan biasanya hanya 60% yang menjadi tukik (anak penyu). The peak season of laying eggs is between August-October, and in the west season (December-February) when the waves are big, the turtles are unenthusiastic to lay eggs. Gak semua Chelo yang naik ke pantai itu bertelur, sebagian cuma iseng jalan2. Secara pemandangan di Ujung Genteng ini emang cool. Penyu juga perlu jalan2 lah. Waktu yang diperlukan seekor penyu untuk merayap ke pantai dan bertelur sekitar 2-3 jam, and during the full moon the turtles crawl to the beach much later, about after 9.00 p.m. Makanya waktu harus balik lagi ke laut mereka banyak yang kesiangan. Secara lelet banget kan jalannya. Telur penyu ini banyak mengandung protein dan lemak. That’s why harganya lebih tinggi daripada telur ayam. Minyak penyu yang baunya amis itu dikenal dengan sebutan minyak bulus, gunanya untuk menghilangkan keriput dan mengencangkan payudara.
Hari semakin siang dan perut meraung-raung. Kita pergi ke pasar ikan dan beli macem2 udang dan ikan, sebagian untuk dimakan di sana dan sebagian untuk oleh2 dan dibawa pulang. Di sepanjang jalan di kawasan pantai ini banyak terdapat rumah makan yang menyediakan jasa bakar dan goreng ikan dan udang. Udang goreng ini begitu menggoda jadi it’s no problem to eat them sebanyak-banyaknya and I don’t care about my allergic skin ‘cause it’s so damn ni’meeeeh buanged…! I can’t wait to see my doctor lah di Bandung ntar. GAPAPA! It’s worth it getoloh!
Hari berikutnya we’re back to Bandung. Tapi sebelumya karena kita lagi euphoria wisata pantai dan udangnya, kita mampir ke Pantai Pelabuhan Ratu. The Queen Harbor is a gulf which has a unique characteristic; a combination of steep and slope beaches. There are steep reefs struck by the waves on the other side, and natural conservation areas on the other. That’s why Bapak took us here. The uniqueness has become interesting whenever the wildness of the south sea waves is related to the legend of Nyi Roro Kidul, the goddess who threw herself into the sea at Karang Hawu. Koq jadi horror gini ya? Don’t try this at home lah. Pokoknya untuk menghormatinya each year on early April the fishermen make offering in a thanksgiving ceremony by sacrificing heads of buffalo and spreading flowers on the sea, and it’s followed with cultural ceremonies and performances. It’s called Pesta Laut. Afterwards some parts of the custom-based ceremony which are detrimental to the Moslem teachings are gradually abolished, so that what is left later is only the form of carnival and folk festival with various kinds of art performance and sports competition or exhibition of skills at the sea.
However, kita di sini cuma mau mampir shalat Jumat dan makan siang aja. Menu special hari ini adalah Lobster saus tiram. Slurp slurp slurp Yummiee… dan seluruh tubuhku membengkak terutama di daerah mata hidung dan bibir. GAPAPA! Ga usah larang-larang. Saya menikmatinya, yah daripada sakit hati. Oh ya, tempat makannya berbentuk saung2 (saung: pondok mungil) yang berjajar sepanjang pesisir pantai, tiap saung diberi nomor, tapi gak ada nomor 13, rupanya masyarakat sana masih mempercayai mitos 13 angka sial. Jadi lucu aja gitu, dari 12 langsung nomor 14. Atau sebenernya ada saung nomor 13, tapi invisible mode. Hiiiii….ngeri deh!
Pulang ke Bandung hari mulai sore dan sempat mampir ke Roti Unyil Okeke di Padalarang. Roti favorite kita adalah roti mini filled with Blueberry jam, gak lupa beli Marshmallows coklat dan blueberry untuk dibakar dan dicelup di selai coklat . Enakenakenak…! Nah, tau kan sekarang kenapa saya semakin endut dan sexy juga berbetis aduhai…