Tahun Baru 1428H
Malam tahun baru
ini, Dechanella bikin konser & I have to attend. KOnser apakah itu? Konser
Angklung yang berjudul A Tribute to Daeng Soetigna.Konser ini diadain di Dago
Tea House. Dago Tea House adalah sebuah gedung yang terletak di daerah Dago
(penting ga sih…).
Apa sih angklung itu? Angklung adalah
alat musik tradisional, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara
digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga
menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam
setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung
sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro
dan pelog.
Nah, kebayang
kan
,
Dea adikku yang langsing semampai itu menggoyang2kan angklung dengan hebohnya…?
Capedeee…
Ceritanya,
asal-usul angklung itu berasal dari zaman Hindu yaitu sebagai tanda waktu
sembahyang dan juga sebagai penghormatan terhadap Nyai Sri Pohaci (Dewi Sri).
Juga sebagai upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak
mengundang malapetaka, baik gangguan
hama
maupun bencana alam lainnya. Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan
saat terang bulan dan tidak hujan. Tapi Dea konsernya
kan
indoor, jadi ya ga keujanan dan
permainan lightingnya juga bisa diatur, ga repot. Mereka memainkan angklung di
panggung yang settingnya buruan (halaman luas di pedesaan) sambil
menyanyikan bermacam-macam lagu, dari lagu Sunda, lagu Pop sampe lagu Belanda.
Para
penabuh angklung sebanyak satu kompi itu membuat
posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran, menari-nari sambil
menggoyang2kan angklungnya dengan centil. Cukup menghiburlah, sehingga membuat
saya ngantuk dan kelaparan.
Dari presentation
slide yang ditampilkan, ada beberapa jenis angklung yang bisa saya tangkap
(yo’i, kita ditimpukin angklung): Angklung Buncis (Priangan/Bandung),
Angklung Badud (Priangan Timur/Ciamis),
Angklung Bungko (Indramayu),
Angklung Gubrag (Bogor), Angklung Ciusul (Banten),
Angklung Dog dog Lojor (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong, Garut),
dan Angklung Daeng yang identik dengan Angklung Nasional dengan tangga nada
diatonis, yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas
Indonesia
ini berasal dari pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada
lima
(salendro atau
pelog) oleh Pak Daeng Soetigna (1908—1984) diubah
nadanya menjadi tangga nada Barat (solmisasi). Hasil pengembangannya kemudian
diajarkan ke siswa-siswa sekolah dan dimainkan secara orkestra besar. Nah
contohnya konser kali ini. Lucu juga melihat Dea & Gege pake kebaya
nenteng2 angklung gede. Udah kayak penerima tamu di Rumah Makan Sindang Reret
aja gayanya, apalagi dengan dandanan Ny. Menornya itu. Pokonya u go (to the zoo) girls!