Fear Factor

Hari Minggu yang cerah, stay at home karena ga punya duit. Ksian banget dweh… Sore harinya saya benar-benar tersadarkan bahwa uang di dompet tinggal 10 ribu rupiah saja. Mau gak mau harus ke atm, karena gak mungkin bayar ojek gesek credit card, bisa-bisa ditampol tukang ojek. Sore itu saya ditemani Yuli, sepupu saya dari pihak Bapak went to the atm at Metro. Thank God antrian gak terlalu panjang, dan akhirnya keluarlah beberapa lembar lima puluh ribuan untuk bekal satu minggu. Then kita ke kedai bakso near there, untuk makan bakso tentu saja. Mungkin karena pengaruh cuaca dan bawaan perut yang tak kunjung kenyang, kami pun memesan pisang keju yang uenak buanged dimakan hangad-hangad… (huuw.. jadi maluuww…).

It’s getting late, and we should go home. Saat itu saya memang ga bawa kendaraan jadi kita harus pulang naik angkot. Ada dua options untuk menyeberang jalan, yang pertama menyeberang dengan menggunakan jasa zebra cross, yang kedua menggunakan jasa jembatan penyeberangan. Meskipun sudah ada tulisan "menyeberang di sini anda aman" keukeuh saya ga mau pake zebra cross. Jalan Soekarno-Hatta selalu padat dengan kendaraan yang lalu lalang dengan kecepatan 60-80km/hour, apalagi malam-malam begini hiii… ngeri aja kesamber truk di depan Metro situ. Amit2 jabang baby deh.. (sambil ketuk2 meja).

Akhirnya saya memutuskan untuk menyeberang menggunakan jembatan penyeberangan. Gosh, cuapek buanged gila! Ada 30 anak tangga untuk naik, dan 30 anak tangga lagi untuk turun. Lumayan membakar kalori kami yang baru makan bakso dan pisang keju. Kalori yang terbakar mungkin cuma 5-7kal, tapi memacu adrenalin sampe ubun-ubun, yuli aja hampir kena stroke di anak tangga ke-17. Kaki gemeteran walaupun kita ga phobia ketinggian. Tapi walopun gitu kita sempet photo-photo lohhh… walaupun dengan wajah yang mengenaskan. Ketika sampai di seberang, tak lupa kita ucapkan syukur kepada Allah S.W.T. karena hanya dengan kehendak-Nyalah kita selamat sampai ke seberang dan berhasil naik angkot dan pulang ke rumah dengan selamat. Meskipun masih dengan kaki gemetar dan jantung dag dig dug berdugem.